{"id":572,"date":"2024-02-22T03:59:19","date_gmt":"2024-02-22T03:59:19","guid":{"rendered":"https:\/\/arsitektur.uin-malang.ac.id\/?p=572"},"modified":"2024-02-22T03:59:19","modified_gmt":"2024-02-22T03:59:19","slug":"berita-talkshow-alumni-how-to-start-architecture-studio","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/arsitektur.uin-malang.ac.id\/id\/berita-talkshow-alumni-how-to-start-architecture-studio\/","title":{"rendered":"Berita Talkshow Alumni : How to Start Architecture Studio"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Pada hari kedua dari serangkaian acara menuju puncak peringatan 20<sup>th<\/sup> Arsitektur UIN Malang diisi dengan <em>talk show <\/em>dari alumni arsitektur UIN Malang yaitu Mas Ubay dan Mbak Sinta. Kedua Alumni ini memiliki visi dan capaian yang berbeda dalam berkarir di ranah arsitektur. Dalam presentasi masing-masing dijelaskan bahwa Mas Ubay lebih kepada sebagai seorang praktisi arsitek dan Mbak Sinta lebih kepada seorang <em>entrepreneur architect<\/em>. Hal ini sangat memberikan <em>insight<\/em> yang berharga dimana kedua jalan karir yang ditempuh memiliki <em>struggle <\/em>dan juga tantangannya tersendiri.<\/p>\n<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter  wp-image-574\" src=\"https:\/\/arsitektur.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/02\/Talkshow-Alumni-02-300x225.jpg\" alt=\"\" width=\"471\" height=\"353\" srcset=\"https:\/\/arsitektur.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/02\/Talkshow-Alumni-02-300x225.jpg 300w, https:\/\/arsitektur.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/02\/Talkshow-Alumni-02-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/arsitektur.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/02\/Talkshow-Alumni-02-768x576.jpg 768w, https:\/\/arsitektur.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/02\/Talkshow-Alumni-02-1536x1152.jpg 1536w, https:\/\/arsitektur.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/02\/Talkshow-Alumni-02-16x12.jpg 16w, https:\/\/arsitektur.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/02\/Talkshow-Alumni-02.jpg 1600w\" sizes=\"(max-width: 471px) 100vw, 471px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam memulai biro arsitek, tentunya seseorang perlu memiliki <em>practical skill <\/em>juga <em>soft skill<\/em> hal ini didasara bahwa dalam memulai sebuah biro sendiri harus memiliki kemampuan teknis yang diimbangi dengan kemampuan berkomunikasi juga managerial yang bagus. Tidak lupa juga dengan kematangan finansial yang harus disapkan dalam merintis sebuah usaha baru. Dijelaskan dalam presentasinya bahwa dalam memulai karir sebagai arsitek mula-mula kita biasanya bekerja ikut dengan biro yang sudah berdiri, disini bertujuan untuk memulai dari sebuah langkah kecil dan disini kita bisa mencari <em>value<\/em>, potensi, peluang dari pengalaman kita bekerja di biro lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam memulai karir sebagai arsitek tentunya kita harus membangun portofolio sejak awal, mungkin dengan ikut dengan biro sembari mengerjakan side project. Hal ini akan menjadi bekal kita dalam mengasah skill juga mencari koneksi nantinya. Mas Ubay menjelaskan bahwa salah satu cara mencari klien pada saat awal merintis yaitu dengan cara \u201cHouse for mother\u201d, dalam hal ini dijelaskan bahwa biasanya orang terdekat kita jadikan seorang klien. Hal ini mungkin cukup sulit dalam prakteknya, tetapi setidaknya kita sudah memilki <em>roadmap <\/em>juga target dari karir yang ingin kita capai. Perlu gagasan yang kuat dan juga organisasi tim yang bisa saling melengkapi jika sudah pada taraf arsitek profesional karena menyangkut etika dan tanggung jawab yang besar.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter  wp-image-575\" src=\"https:\/\/arsitektur.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/02\/Talkshow-Alumni-03-300x225.jpg\" alt=\"\" width=\"463\" height=\"347\" srcset=\"https:\/\/arsitektur.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/02\/Talkshow-Alumni-03-300x225.jpg 300w, https:\/\/arsitektur.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/02\/Talkshow-Alumni-03-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/arsitektur.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/02\/Talkshow-Alumni-03-768x576.jpg 768w, https:\/\/arsitektur.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/02\/Talkshow-Alumni-03-1536x1152.jpg 1536w, https:\/\/arsitektur.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/02\/Talkshow-Alumni-03-16x12.jpg 16w, https:\/\/arsitektur.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/02\/Talkshow-Alumni-03.jpg 1600w\" sizes=\"(max-width: 463px) 100vw, 463px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam pesan terakhir para kedua presentor menyampaikan bahwa kita sebagai mahasiswa arsitektur harus memiliki sebuah visi dan misi dalam mencapai karir nantinya. Oleh karena itu, semangat dalam belajar dan mengasah skill harus ditekuni sedari kita menjadi mahasiswa arsitektur. Mulai dari kecil, memiliki target dan tetap ikhtiar adalah cara agar kita meraih kesuksesan di masa kelak. Mungkin jalan tidak akan selalu lurus, tetapi akan mudah jika kita jalani dengan tulus. Salam Arsitektur!<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada hari kedua dari serangkaian acara menuju puncak peringatan 20th Arsitektur UIN Malang diisi dengan talk show dari alumni arsitektur UIN Malang yaitu Mas Ubay dan Mbak Sinta. Kedua Alumni ini memiliki visi dan capaian yang berbeda dalam berkarir di ranah arsitektur. Dalam presentasi masing-masing dijelaskan bahwa Mas Ubay lebih kepada sebagai seorang praktisi arsitek [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":573,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[27],"tags":[],"class_list":["post-572","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kegiatan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/arsitektur.uin-malang.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/572","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/arsitektur.uin-malang.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/arsitektur.uin-malang.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/arsitektur.uin-malang.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/arsitektur.uin-malang.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=572"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/arsitektur.uin-malang.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/572\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/arsitektur.uin-malang.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/573"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/arsitektur.uin-malang.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=572"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/arsitektur.uin-malang.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=572"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/arsitektur.uin-malang.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=572"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}